|
BUKU QUANTUM TAHFIDZ; SIAPA BILANG MENGHAFAL AL-QUR'AN ITU SUSAH? |
  Luncurkan Buku Quantum Tahfiz Sriwijaya Post - Rabu, 24 Februari 2010 22:00 WIB DIANTARA ustadz dan sekaligus pengajar ilmu agama yang sudah berkiprah di tanah air, nama Masagus Ahmad Fauzan cukup dikenal merupakan sosok asli kelahiran Palembang Darussalam, 20 Agustus 1981. Ustadz muda yang akrab disapa Yayan ini dididik dan dibesarkan di tengah keluarga yang religius, dan sosial. Sebagai seorang Hafiz Alquran ia pun merasa berkewajiban untuk menyampaikan dan membagi ilmunya tentang cara menghafal Quran. Karena itu tak bosan ia membuat karya yang dituangkannya dalam bentuk buku guna membantu masyarakat dalam menghafal Quran. Baru- baru ini ia meluncurkan buku dengan judul Quantum Tahfiz yang memuat pembahasan tentang strategi, metode dan beberapa tahapan menghafal Alquran dengan baik. Buku setebalh 234 halaman yang ditulisnya bersama Farik Wajdi tidak hanya menyajikan bagaimana penjelasan tingkat kemampuan otak manusia dalam menghafal, tetapi lebih dari itu ia juga membahas bagaimana teknik dan tahapan-tahapan dalam menghafal al-Quran dalam Quantum Tahfiz. Buku tersebut bisa menjadi pedoman bagi seseorang yang ingin belajar atau menghafal Alquran, sebab bersumber dari teori langsung dari nabi dalam menghafal dipadukan pembelajaran ala modern,” jelasnya. Dalam bukunya yang kelima itu ia menjelaskan, paling tidak ada lima tahapan yang harus dipersiapkan dalam menghafal Quran. Langkah pertama ia mulai dengan melakukan persiapan diri, dimana harus diawali dengan niat yang tulus, berwudhu dan duduk di tempat suci. Bebas pemandangan, gambar, dan suara bising. Selanjutnya melakukan pemanasan dengan membaca terlebih dahulu ayat-ayat dalam satu baris yang akan dihafal dengan suara sedang selama 10 menit dan melihat mushaf Alquran. Setelah itu membacanya berulang kali hingga maknanya tergambar jelas dalam ingatan sebelum kemudian pindah pada ayat berikutnya. Jika sudah hafal, maka mulai dengan amaliyah al-rabt atau yang disebut dengan menyambung halaman, dalam artian mencoba menghafal akhir ayat yang dihafal untuk kemudian menyambungnya pada ayat berikutnya. Terakhir, setelah selesai menghafal lakukan istirahat atau melemaskan tubuh. Jika para penghafal melakukan hal itu secara rutin sesuai panduan Quantum Tahfiz mudah-mudahan menghasilkan hafalan yang kuat dan tahan lama,” imbuhnya. sripo 5 KEUNGGULAN QUANTUM TAHFIDZ (QT): QT menawarkan satu cara menghafal yang lebih mudah, lebih cepat dan yang penting lebih menyenangkan. Melalui QT kita merasakan pengalaman menghafal al-Quran yang enjoy, fun, dan penuh makna. Seperti Fisika Quantum. QT menjelaskan bagaimana cara menghafal efektif, sehingga mendapatkan has...il yang sama dengan kecepatan cahaya. Penghafal al-Qur’an diharapkan menemukan cara menghafal yang kreatif dan menantang. QT mengadopsi metode Nabi Muhammad saw ketika menghafal al-Qur’an (talaqqi dari malaikat Jibril as, qiraah fisholat, dan 5 ayat) dipadukan dengan metode quantum learning yang dikembangkan oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki. di buku QT ada metode One Day One Ayat yang disingkat D’One (satu hari satu ayat). Metode ini digagas dan dikembangkan oleh Ustadz Yusuf Mansur untuk para santrinya di pesantren tahfidz-SDQI Tangerang. Menurut dia, metode D’One seperti makan kerupuk, para santri makan sedikit-sedikit. Setiap hari 2-3 ayat saja, atau 4-...5 ayat saja, seakan mengikuti irama shalat wajib. Tapi setiap mereka mendapat hafalan satu ayat, mereka lalu berlarian ke perpustakaan buku dan perpustakaan digital untuk mencari referensi tentang satu ayat yang dipelajari tersebut. Umpamanya ketika menghafal ayat ke-77 surah Yaasiin mereka hafal dengan baik dan setelah itu mencari asbaabun nuzuul dan hal ihwal yang terkait dengan ayat itu ke dalam dua bahasa. "Awalam yarol insânu... Apakah manusia tidak melihat... Does not man see... Annaa kholaqnaahu... Bahwasanya Kami menciptakannya... That we created him... Min nuthfatin... Dari nuthfah... From nuthfah, male and female sexual discharge... Dst."Harga buku Rp. 50.000 (sudah termasuk ongkos kirim). Pemesanan Hubungi: 081388348164
|
|
|
AL-QURAN SAHABAT TERBAIK Oleh: Masagus Fauzan Yayan (Pengurus Yayasan Kiai Marogan) Al-Qur’an surah al-Furqan ayat 27-30 di bawah ini menarik untuk kita renungkan bersama. "Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul'. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an itu sesuatu yang tidak diacuh-kan." Fenomena menarik yang digambarkan oleh ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka telah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari Al-Qur'an. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan Al-Qur'an sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an. Penggunaan kata ya.. pada kata ya rabbi ( يا رب wahai Tuhanku) pada ayat ini mengesankan betapa sedih, pilu dan luka hatinya Nabi saw, ketika melihat umatnya meninggalkan Al-Qur’an. Mereka tidak mengacuhkannya, tidak mengikuti tuntunannya, tidak mendengar ayat-ayat yang dibacakan, apalagi sampai bergetar. Term khalil yang berarti sahabat, yang digunakan Allah pada ayat di atas secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat tersebut dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktifitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting, dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata “sahabat” maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka. Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dahulu dengan Al-Qur’an. Dikarenakan di dalam Al-Qur’an kita dapat menemukan panduan hidup yang benar, bagaimana memulai per-sahabatan yang positif dan kiat-kiat untuk mengenali sifat-sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. Az-Zukhruf: 67). Karena apabila kita jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an, dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bisikan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan di dalam firman Allah: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu Al-Qur’an), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya” (QS. Az-Zukhruf [43]: 36) Intinya dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: Al-Qur’an atau setan. Apabila kita bersahabat dengan Al-Qur’an maka kita akan selamat di jalan Allah, sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Qur’an telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan, “A’ûdzubillâhi min asy-syaithân ar-rajîm” yang artinya: Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, baik dengan suara nyaring maupun berbisik. (QS. An-Nahl: 98). Selain itu, alasan yang cukup kuat kenapa kita harus bersahabat dengan Al-Qur’an, kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat khalidah (mu’jizat abadi). Keberadaannya diyakini, sebagaimana kata pepatah, “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Ia akan senantiasa shālih fi al-zamān wa al-makān (selalu relevan di setiap waktu dan tempat). Dengan demikian, kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al-Qur’an. Hanya saja, untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat karib, tentu saja kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni, menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya, dan ingin selalu dekat berada di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya. Sebab, dengan begitu, kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, Al-Qur’an sendiri memperkenalkan dirinya sebagai kitab petunjuk (hidāyah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan (zulumāt) menuju cahaya (nūr). Atau dengan kata lain, Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.Ternyata manfaat dari bersahabat dengan Al-Qur’an selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca Al-Qur’an, meskipun belum mengerti artinya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan. Sungguh pantas, kiranya setiap kaum muslim menja-dikan Al-Qur’an sebagai sahabat karibnya. Yaitu dengan berakhlak sebagaimana akhlak Al-Qur’an, menerapkan manajemen hidup yang Qurani, cara bergaul ala Al-Qur’an. Sebagai contoh uraian dan pembahasan di dalam Al-Qur’an tentang perlunya menjaga tali persaudaraan, tolong menolong, tidak boleh bercerai-berai; bermusuhan, berkelahi, bunuh-membunuh, caci-mencaci, ghibah. Maka hendaknya setiap orang berusaha untuk hidup rukun dan damai dengan orang lain. Oleh karena itu mari kita mengakrabkan diri kita dengan Al-Qur’an, meskipun baru sebatas membaca (belum mempelajarinya). Jangan berpikir bahwa membaca saja tanpa pemahaman adalah tidak berguna. Kesan seperti itu adalah hasutan setan untuk mengelabui diri manusia karena surat dari Yang Terkasih amatlah indah meskipun si pencinta tak tahu maknanya.[]
|
|
|
MASJID PENINGGALAN KIAI MAROGAN |
|
Koran » Dialog Jumat Jumat, 16 Januari 2009 pukul 13:48:00 Ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) ini dikenal memiliki banyak masjid bersejarah. Kota Palembang atau Palembang Darussalam, yang dibelah Sungai Musi, pada zaman dahulu kala adalah tempat berdirinya Kesultanan Palembang, dan menjadi pusat pengembangan Islam. Maka itulah, tak heran jika banyak berdiri masjid yang berusia tua, serta menyimpan catatan historis tak ternilai harganya. Dalam buku berjudul Masjid Agung Palembang yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Sumsel, disebutkan, di antara masjid-masjid bersejarah itu, selain Masjid Agung sebagai masjid tertua dan pertama kali berdiri pada tahun 1738, juga adalah Masjid Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul. Masjid Muara Ogan juga disebut Masjid Kiai Muara Ogan, merupakan masjid kedua yang berdiri di Palembang, dibangun tahun 1871. Masjid tersebut berada di tepi muara Sungai Ogan yang airnya mengalir ke Sungai Musi. Setelah Masjid Ki Marogan, kemudian menyusul berdiri Masjid Lawang Kidul. Masjid ini terletak persis di tepi Sungai Musi yang menjadi urat nadi kota Palembang. Masjid Lawang Kidul berlokasi di muara Sungai Jeruju di Kampung 5 Ilir, berdiri tahun 1881. Dan antara Masjid Kiai Marogan dan Masjid Lawang Kidul punya satu kesamaan, yakni didirikan oleh Masagus H Abdul Hamid bin Masagus H Mahmud. Beliau merupakan ulama besar Palembang pada masanya. oed Masjid Marogan Punya peran sangat besar dalam penataan kehidupan masyarakat Palembang di masa Kesultanan Palembang Darussalam berjaya, terutama pada perbaikan kultural dan sosial rakyat Palembang. Dibangun sekitar tahun 1871, masjid memiliki luas 20 meter x 25 meter persegi. Renovasi pertama dilakukan tahun 1950. Bagian atap masjid, mustaka atau limas paling atas, diganti dengan kubah bulat berbahan seng. Serambi depan masjid diperluas dengan bahan cor beton. Luas bangunan bertambah menjadi 50 meter x 40 meter persegi. Renovasi kembali dilakukan tahun 1989. Plafon ruangan utama ditinggikan. Lantai masjid diganti keramik, pintu dan jendela diganti baru, tapi unsur aslinya tidak berubah. Arsitektur masjid serupa Masjid Agung Palembang. Keseluruhan ornamen masjid menandakan akulturasi budaya asli Melayu dengan budaya Timur lainnya, sesuai dengan situasi sosial setempat yang mencirikan keterbukaan. berbagai sumber Masjid Lawang Kidul Terletak di tepian Sungai Musi di semacam tanjung yang terbentuk oleh pertemuannya dengan muara Sungai Lawangkidul, di kawasan Kelurahan Lawangkidul, Kecamatan Ilir Timur II. Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan sekitar tahun 1881. Hingga kini, masjid masih tampak kokoh, dan menjadi saksi perkembangan Islam di Palembang. Bangunan induknya seluas lebih kurang 20 X 20 meter, sebagian besar masih asli. Terdapat juga bangunan tambahan, sehingga luas keseluruhan menjadi 40 X 41 meter. Tahun 1983-1987 lalu, dilakukan pemugaran. Beberapa bagian bangunan ada yang terpaksa diganti, terutama atapnya yang semula genting belah bambu, menjadi genting kodok. Interior mesjid masih seperti aslinya. Empat saka guru setinggi delapan meter dengan 12 pilar pendamping setinggi lebih kurang enam meter. Kesemua tiang bersudut delapan. Ulama yang Cinta Masjid Untuk mengenang kebesaran Masagus H Abdul Hamid bin Masagus H Mahmud, Yayasan Kiai Marogan (YKM) Palembang pada peringatan 1 Muharam 1430 H, melaksanakan seminar bertajuk Napak Tilas Dakwah Kiai Marogan, Sosok Ulama dan Pengusaha, bertempat di Masjid Kiai Marogan. Sejumlah pembicara hadir, antara lain KH Sodikun Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, Mustafa Kamal anggota DPR RI dan KMS H. Andi Syarifuddin. Diskusi membahas peran sang ulama pada masanya, juga kaitannya dengan pengembangan Islam saat ini. Masagus H Abdul Hamid bin Masagus H Mahmud lahir dari pasangan Masagus H Mahmud dengan Perawati, perempuan keturunan etnis Cina, sekitar tahun 1802. Beliau meninggal dunia pada 31 Oktober 1901 dalam usia 89 tahun. Tokoh ini kemudian dikenal masyarakat Palembang dengan sebutan Kiai Marogan. Dia sejak kecil telah tumbuh cerdas, kemudian oleh orangtuanya dikirim ke Makkah, Saudi Arabia, guna mendalami ilmu agama. Selama di Makkah, dia belajar ilmu fikih, hadis, dan tasawuf. Selain tekun belajar ilmu agama, Kiai Marogan juga dikenal suka berniaga yang mengusahakan pengolahan kayu. Walau sukses dalam berniaga, tokoh ini seharihari tetap berprofesi sebagai ulama. Justru, suksesnya sebagai pengusaha semakin menunjang kegiatan dakwahnya ke berbagai daerah di pedalaman Sumatera Selatan. Dengan hartanya, dibangunlah beberapa masjid, di antaranya dua buah masjid bersejarah tadi. Masjid itu dibangun dengan uang hasil bisnis pribadi. Menurutnya, membangun masjid jauh lebih penting dari mengumpulkan harta tanpa beramal kepada orang lain. Bagi Kiai Marogan, masjid merupakan media menjalankan dan memperjuangkan dakwah. Pada zaman itu, masjid di Palembang fungsinya sama seperti pesantren di Jawa. Arti masjid bagi sang kiai, sangatlah sentral. Dalam pandangannya pula, masjid identik dengan anak-anak yatim piatu. Merawat masjid sama dengan merawat anak-anak yatim dan miskin.
|
|
|
profil yayan, palembang express |
|
PROFIL YAYAN/harian Palembang Express Mgs. Ahmad Fauzan Al-Hafizh, Zurriyat Kiai Marogan Terlahir di dalam keluarga sama sekali tidak bisa direncanakan, terlebih menjadi salah satu keturunan orang besar di Palembang. Namun demikian yang dijalani Masagus Ahmad Fauzan, pria muda tersebut memikul tugas berat. Pasalnya, ia tak hanya harus mengemban nama besar kakek buyutnya, tetapi juga harus menjaga perilaku yang mencerminkan sikap seorang muslim. Sehari-hari pria kelahiran Palembang, 20 Agustus 1981 tersebut lebih akrab disapa Yayan. Namun, sapaannya tersebut tidak berarti membuat ia bisa seenaknya bersikap, terlebih pendidikan Islam sudah mengalir kental dalam darah ningratnya. Begitu besar andil dan sentuhan orang tuanya di dalam keberhasilan pendidikan dan perkembangan wawasan berpikirnya. Pertama kali belajar ngaji (membaca al-quran) di bawah asuhan orang tuanya setiap habis shalat maghrib di rumah dan di masjid Marogan mulai dari belajar turutan (metode al-Baghdady)—dengan cara hafalan surat-surat pendek—hingga mampu membaca al-quran. Berkat ketulusan dan dorongan untuk mencari ilmu dari Aba Masagus Amancik Ujang, Ibok Masayu Faridah dan Bicik Nacik, sehingga dirinya memiliki konsentrasi yang penuh untuk belajar dan menemukan hakekat hidup ini. Dia bersaksi kalau tidak karena pengaruh ketiga orang tua yang bijaksana ini, sungguh masa depannya tidak akan berubah sebagaimana masa kecil di kampong Marogan. Tepatnya pada bulan Ramadhan 1426 dua tahun yang lalu, Fauzan bersama teman-teman seangkatan berinisiatif mendirikan lembaga CSQ (Club Sahabat al-Quran) yang bergerak di bidang penyediaan jasa layanan privat baca tulis al-Quran untuk memberantas buat huruf al-Quran yang terjadi di masyarakat. Seperti merasakan malam laylatul Qadar dia mendapat ilham untuk lebih aktif mengurusi lembaga ini. Karena pendidikannya di bidang al-Quran, sampai saat ini ia bersama istri masih berkhidmat di Pesantren Tahfizh-Sekolah Daarul Quran Internasional (SDQI) berdomisili di wilayah Tangerang-Banten. Pesantren ini di bawah asuhan Ust. H. Yusuf Mansur. Merasa terpanggil untuk meneruskan perjuangan sang kakek, Kiai Marogan, dirinya sering pulang kampong mengurusi Yayasan Kiai Marogan (YKM) yang bergerak di bidang pengajian, dakwah dan pendidikan Islam. Berapa kali pelatihan sudah terlaksana seperti Kiat Jitu Bersahabat dengan al-Quran, pelatihan Terjemah al-Quran metode CSQ, dan sebagainya. Impiannya yang belum terwujud, adalah memimpin pesantren Kiai Marogan sebagai pelanjut ajaran Kiai Marogan. Hal ini tergerak setelah menyaksikan masyarakat Palembang saat ini sudah jauh dari nilai-nilai religius. Bahkan ia perhatikan warga di sekitar masjid Kiai Marogan berperilaku jauh dari nilai-nilai masjid. Kalau Allah meridhai cita-cita ini, insya Allah, ia akan memutuskan hijrah dari kota Jakarta kembali ke tanah kelahirannya di Palembang dan mengabdikan diri untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat.
|
|
|