|
KEBERADAAN masjid-masjid tua di Kota Palembang sampai saat ini masih tetap menjadi tempat ibadah utama masyarakat. Beberapa bangunan masjid tua ini sudah banyak yang mengalami penambahan dari bangunan aslinya. Tetapi ada juga bangunan awalnya tidak diubah. Hanya direnovasi
dan pergantian bahan dari kayu ke beton semen atau penambahan bangunan baru yang mengelilinginya untuk menampung jumlah jamaah yang terus bertambah.
Perluasan dan penambahan bangunan baru masjid-masjid tua itu dilakukan untuk menampung bertambahnya jamaah, khususnya jamaah sholat Jumat dan tarawih di Bulan Suci Ramadhan. Contoh yang dapat dijadikan bukti jika suatu masjid itu dinyatakan tua, salah satunya dari bentuk kubah yang berbentuk limas dan tiangnya terbuat dari kayu onglen. Selain itu susunan papan dari kayu onglen pada kajang yang mengelilingi bangunan dalam masjid. Pengamatan Sripo terhadap beberapa masjid tua di Palembang ini, jelas sekali bentuk dan gaya bangunannya hampir sama yakni bergaya budaya Palembang asli.
Gaya Palembang pada bangunan masjid tua itu dapat dilihat dari bangunan kubahnya yang dipengaruhi bentuk rumah limas dan susun kayu kajang onglen memanjang mengelilingi ruangan dalam masjid seperti yang masih bisa kita lihat di Masjid Lawang Kidul. Masjid yang dibangun tahun 1891 atau 1310 Hijriyah oleh Kiai Masagus H Abdul Hamid Bin Masagus H Mahmud (Kiai Muara Ogan atau Ki Merogan)
ini usianya sudah 114 tahun.
Masjid-masjid tua di Palembang ini dibangun dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat Palembang ketika itu. Di mana aktivitas ekonomi dan transportasi ketika itu melalui sungai.
Keberadaan Sungai Musi tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan masjid-masjid tua di Palembang yang mengandung nilai sejarah dan budaya. Dibangunnya Masjid Agung Sultan MahmudBadaruddin di pesisir Sungai Musi menunjukkan kepada kita bahwa arus transportasi satu-satunya ketika itu adalah sungai.
Sungai menjadi tempat berlangsungnya perdagangan (pasar) di mana masyarakat melakukannya di sungai di atas perahu-perahu kajang. Namun sayang, masjid-masjid tua yang bernilai sejarah dan budaya itu masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Kecuali Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Palembang. Masjid yang dibangun Sultan Mahmud Badaruddin II ini sudah dinyatakan sebagai Masjid Nasional, sehingga perawatan dan pemeliharaannya menjadi tanggungan pemerintah,
baik pusat maupun daerah. Dengan kata lain tidak perlu dikhawatirkan untuk urusan pendanaannya. Contohnya saja saat ini Masjid Agung yang sudah mengalami beberapa kali renovasi dan penambahan
bangunan itu menjadi masjid kebanggaan masyarakat Palembang.
Lain halnya dengan Masjid Lawang Kidul, Masjid Ki Merogan dan Masjid Mahmudiyah (Suro). Masjid Lawang Kidul sejak dibangun tahun 1891 atau 114-115 tahun silam, sampai dengan tahun 2006 ini, baru satu kali mendapat perhatian serius pemerintah yakni pada kepemimpinan periode ke III tahun 1983-1987 di bawah asuhan KHO Gadjah Nata. Masjid yang terletak di Kelurahan Lawang Kidul RT 22 Kecamatan Ilir Timur II Palembang ini bentuk aslinya masih bisa dilihat dengan jelas. Bangunannya berbentuk empat persegi panjang dengan satu kubah limas di atasnya. Kemudian masjid ini diperluas dengan membangun bangunan baru berbentuk letter L mengelilingi bentuk dua perempat bangunan aslinya tapi tanpa mengubah bentuk asli masjid.
Bangunan tambahan itu sampai sekarang tidak banyak berubah sepertinya kurang mendapat perhatian dan terkesan kusam. Tiang penyangganya masih ada yang terbuat dari tiang kayu bersegi empat dan sebagian lagi tiang beton bersegi bahkan atapnya seng. Uniknya masjid ini, meskipun bangunan tambahannya seperti kurang terawat namun, bagian dalam bangunan aslinya cukup indah.
Kondisi yang dialami Masjid Lawang Kidul ini juga dialami masjid-masjid tua lainnya seperti Masjid Mahmudiyah (Masjid Suro) di 30 Ilir Palembang. Masjid ini juga belum banyak mendapat sentuhan serius dari pemerintah. Bangunannya masih berupa beton semen yang lama. Mansyur H Husin, Wakil Ke-KOTA Palembang memiliki cukup banyak masjid yang berusia 100 tahun ke atas. Sebut saja Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin, Masjid Kiai Merogan, Masjid Lawang Kidul, bahkan Masjid Mahmudiyah (Suro) juga termasuk masjid tua yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Seperti apa kondisi masjid-masjid tua yang tersebar di beberapa kawasan dalam Kota Palembang itu?. Berikut laporan Wartawan Sriwijaya Post, Tarso, yang disajikan dalam edisi Fokus minggu ini.
LAIN lagi dengan Masjid Ki Merogan, masjid yang umurnya lebih tua 15 tahun dari Masjid Lawang Kidul ini dibangun dulu oleh Ki Merogan beberapa tahun kemudian sebelum membangun Masjid Lawang Kidul. Bangunan awalnya masjid yang terletak di Jl Ki Merogan RT 01 Kelurahan Kertapati Palembang ini tidak jauh beda dengan Masjid Lawang Kidul. Hanya saja masjid ini sempat mengalami perubahan bentuk kubah limas menjadi bundar kemudian dirubah lagi menjadi bentuk limas. Nasib masjid ini juga lebih beruntung daripada Masjid Lawang Kidul, selain mendapat bantuan pengusaha H Halim dalam hal penambahan bangunan dan renovasinya, sering juga mendapat kunjungan pejabat negara dan pejabat pemerintah setempat seperti presiden, menteri, gubernur dan walikota.
Bahkan pembangunan per-Renovasi Bantuan H Halim luasan bangunan dan renovasi yang sekarang sedang dilakukan pihak yayasan dengan bantuan dari pengusaha Palembang, H Halim. Keliling bangunan masjid ini semuanya beton yang dipadu dengan tiang-tiang beton tambahan batu pualam dibuat pintu dan jendela kaca. Kondisinya beda sekali dengan Masjid Lawang Kidul dan Suro. Masagus (Mgs) Usman Ahmad, Ketua Yayasan Masjid Kiai Merogan ditemui Sripo, Sabtu (23/9) mengatakan masjid ini sudah dua kali mendapat bantuan dari H Halim, baik pembangunan perluasan bangunan maupun renovasinya. "Yang sekarang sedang kami lakukan ini, membuat pintu dan jendela mengelilingi bangunan dananya juga dari bantuan pak H Halim, pernah juga ada dibantu pak Taufik Kiemas, suami ibu Mega tahun 2005 lalu sebesar Rp 10 juta," kata Usman Ahmad, seraya menerangkan selama ini Masjid Ki Merogan sudah tiga kali direnovasi. Tahun 1950 renovasi kubah dari bentuk Limas diganti bundar. Kemudian tahun 1989 bantuan tua Yayasan Masjid Lawang Kidul ditemui Sripo kemarin membenarkan jika Masjid Lawang Kidul dibangun di pinggiran sungai karena alasannya
adalah sumber air wudhu adalah sungai, transportasi kala itu juga di sungai termasuk jual beli (perdagangan) dilakukan di sungai. "Dulu di belakang masjid ini hutan semua, tidak ada jalan masyarakat Palembang ini tinggal di pinggiran sungai," ungkapnya seraya menerangkan jika semua masjid tua di Palembang ini bentuk dan lokasi bangunannya di pinggir sungai alasannya sama karena transportasi, sosial dan ekonomi masyarakat ditentukan dengan keberadaan sungai khususnya Sungai Musi. "Kalau bangunan tambahan ini masih baru sekitar tahun 1983-1987 masa KHO Gadjah Nata, belum banyak dipoles sejak dibangunnya," ujar Mansyur seraya mengakui Masjid Lawang Kidul dirawat dan dipelihara melalui dana swadaya masyarakat dan sumbangan jamaah.
Mansyur Husin mengakui pemerintah kabarnya mau menggalakkan pariwisata sungai, sehingga masjid-masjid di bantaran Sungai Musi ini minimal harus ditata dan direnovasi lagi bagian-bagian bangunannya yang menghadap ke sungai. "Tapi kami belum tahu dananya dari mana, kalau pemeliharaan kecil-kecilan bisa daja dananya dari sumbangan jamaah dan warga setempat, "ungkap Mansyur. Memperhatikan kondisi masjid-masjid tua di Palembang yang memiliki nilai sejarah dan budaya ini sudah selayaknya pemerintah memberikan sentuhannya. Supaya masjid- masjid itu bukan saja menjadi tempat ibadah umat melainkan juga tempat pengkajian ke Islaman dan juga aset sejarah yang patut dipertahankan, serta dirawat dengan baik dan benar sesuai dengan fungsinya.***
MENURUT Mansyur H Husin, Masjid Lawang Kidul pada awalnya dikelola secara keluarga. Sejak tahun 1968 pengelolaan masjid dialihkan ke Yayasan Masjid dan pengurusnya pun masuk orang-orang yang bukan dari keluarga pendirinya tetapi masyarakat umum. "Sejak dikelola Yayasan itulah masjid ini ditambahkan bangunannya Mengharap Pengkajian Keagamaan bentuk Leter L, masa KHO Gadjah Nata tahun 1983-1987."
Diakuinya, saat ini fasilitas masjid cukup memadai, untuk sarana tikar dan karpet cukup, penerangan, penegras suara bagus. Hanya saja masih menjadi pemikiran yayasan adalah tempat dan sarana pengkajian ke Islaman seperti yang ada di Masjid Agung. "Kami juga berniat untuk membangun tempat pusat pengkajian dalam rangka mencetak cendikiawan muslim, selama ini kegiatan di sini selain dari shalat pengajian biasa," papar Mansyur sembari berharap pemerintah mau membangun fasilitas tambahan di Masjid Lawang Kidul khusus untuk kegiatan pengkajian atau sejenisnya.*** dari H Halim, kubah bundar diubah lagi kembali kepada bentuk aslinya. "Pada tahun yang sama juga direnovasi bangunan kelilingnya," terang Usman Ahmad.***
|
link:http://www.haircareessence.com link:http://www.haircareessence.com ...
empty comment
empty comment
With the season's different, women wh...
With the season's different, women wh...